Abstract
The Law No. 1 year of 1974 on Marriage Law had set the minimum age for marriage of 16 years old for women and 19 years old for men. This minimum age for setting up marriage is not only a form of legalization for conducting child marriage, but also a form of legalized gender-based discrimination, particularly against girls. In 2019, the Law was finally revised thus the discriminating set of minimumage for marriage was abolished, and the minimum age was set into 19 years old for both women and men. Koalisi 18+ is a civil society network in Indonesia, which work to abolish legalized child marriage through the revision of Marriage Law. They work through judicial review of the Marriage Law at the Constitutional Court, and also through encouraging revision of the Marriage Law at the parliament(DPR). This article describes and analyze the key discourses appeared during the effort to abolish and revise the Marriage Law No.1 Year 1974 through child’s rights and feminist legal approaches.References
advantages, and potential problems, University of Leicester School
of Law Research Paper No. 13-12.
Bemmelen, ST & Grijns, M 2018, Perdebatan tentang Perkawinan
Anak, Mulai dari Zaman Kolonial Hingga ke Kurun Jawa Masa Kini:
Adat, Agama, dan Negara, dalam Grijns et al (eds) 2018, Menikah
Muda di Indonesia: Suara, Hukum, dan Praktik, Yayasan Pustaka
Obor Indonesia: Jakarta.
BPS, BAPPENAS & PUSKAPA 2020 Pencegahan Perkawinan Anak:
Percepatan yang Tidak Bisa Ditunda, diakses pada 27 Mei 2020,
dari https://www.unicef.org/indonesia/media/2851/file/ChildMarriage-Report-2020.pdf.
Candraningrum, D , Dhewy, A & Pratiwi, AM 2016, Takut akan Zina,
Pendidikan Rendah, dan Kemiskinan: Status Anak Perempuan
dalam Pernikahan Anak di Sukabumi Jawa Barat, Jurnal Perempuan
Vol. 21, No. 1, Februari 2016.
DPR RI 2019a, Risalah Dalam Rangka Penyusunan RUU tentang
Perubahan UU Perkawinan tanggal 20 Agustus 2019, diakses pada 4 Juni 2019, dari http://www.dpr.go.id/dokakd/dokumen/RJ4-
-021919-5081.pdf.
DPR RI 2019b, Risalah Rapat Kerja Menteri Hukum dan HAM
Republik Indonesia, diakses pada 13 Juni 2020, dari http://www.
dpr.go.id/dokakd/dokumen/RJ4-20191127-021843-7651.pdf.
De Graeve, K 2015, ‘Children’s Rights from a Gender Studies
Perspective: Gender, Intersectionality and Ethics of Care’. Dalam
W. Vandenhole, E. Desmet, D. Reynaert, K. Vlieghe & S. Lembrechts
(eds.), Routlegde International Handbook of Children’s Rights
Studies, London: Routledge.
Eddyono, S et al 2014, Analisis terhadap Praktik Perkawinan Anak
di Kabupaten Tuban, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Mamuju,
Jakarta: Koalisi 18+.
Fletcher, Ruth 2002 Feminist Legal Theory, post-print version,
diakses pada 15 Juni 2020, dari: https://www.researchgate.net/
publication/277248454_Feminist_Legal_Theory.
Grijns, M et al (eds) 2018 Menikah Muda di Indonesia: Suara, Hukum,
dan Praktik, Yayasan Pustaka Obor Indonesia: Jakarta.
Grijns, M et al 2016, Pernikahan Anak di Sukabumi Jawa Barat:
Diri dan Agensi Anak Perempuan, Jurnal Perempuan Vol. 21 No. 1,
Februari 2016.
Kidman, R 2017, Child marriage and intimate partner violence:
a comparative study of 34 countries, International Journal of
Epidemiology, 2017, hh. 662-675.
YKP 2014, Mengijinkan Perkawinan Anak adalah Inkonstitusional:
Permohonan Uji Materiil Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974
tentang Perkawinan.
BPHN 2019, Hasil Penyelarasan Naskah Akademik Rancangan
Undang-undang Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor
Tahun 1974 tentang Perkawinan, diakses pada 14 Juni 2020, dari:
https://www.bphn.go.id/data/documents/na_ruu_perkawinan_.
pdf.
Kepres Nomor 36 tahun 1990 tentang Pengesahan Convention of
the Rights of the Child (Konvensi tentang Hak-hak Anak).
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia 2014a, Putusan Nomor
-74/PUU-XII/2014, diakses di: https://mkri.id/public/content/
persidangan/putusan/30-74_PUU-XII_2014.pdf
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia 2014b, Risalah Sidang
Desember 2014, diakses pada 23 Mei 2020, dari: https://mkri.
id/public/content/persidangan/risalah/risalah_sidang_7235_
Perkara%20Nomor%2030%20dan%2074.PUU.XII.2014%20tgl%20
%20Desember%202014.pdf.
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia 2017, Putusan Nomor
/PUU-XV/2017, diakses pada 23 Mei 2020, dari: https://mkri.id/
public/content/persidangan/putusan/22_PUU-XV_2017.pdf.
Niko, N 2016, Anak Perempuan Miskin Rentan Dinikahkan: Studi
Kasus Hukum Adat Dayak Mali Kalimantan Barat, Jurnal Perempuan
Vol. 21, No. 1, Februari 2016.
OHCHR, Child, early and forced marriage, including humanitarian
setting, diakses pada 23 Mei 2020, dari https://www.ohchr.org/en/
issues/women/wrgs/pages/childmarriage.aspx.
Republika.co.id 2015, Kaukus Perempuan Parlemen Miliki 10 Isu
Prioritas, diakses pada 13 Juni 2020, dari: https://www.republika.
co.id/berita/dpd-ri/berita-dpd/15/09/04/nu5cog368-kaukusperempuan-parlemen-miliki-10-isu-prioritas.
Thorne, Barrie 1987, Revisioning Women and Social Change: Where
Are the Children? Gender and Society, March 1987, Vol 1, No.1, hh.
-109.
Tribunnews.com 2015, Kaukus Perempuan Parlement untuk
Wujudkan Kehidupan Demokratis dan Bebas Diskriminasi,
diakses pada 13 Juni 2020, dari: https://www.tribunnews.com/
nasional/2015/09/04/kaukus-perempuan-parlemen-untukwujudkan-kehidupan-demokratis-dan-bebas-diskriminasi.
UN 2018, Report of the Secretary-General on the issue of child, early
and forced marriage. Diakses pada 13 Juni 2020, dari: https://www.
un.org/ga/search/view_doc.asp?symbol=A/73/257.
Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan
Undang-undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas
Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan
UNFPA & UNICEF 2010, Women and Children’s Rights: Making the
Connection, diakses pada: 31 Mei 2020, dari: https://www.unfpa.
org/sites/default/files/pub-pdf/Women-Children_final.pdf
YKP 2016, Memangkas Pernikahan Anak: Pengalaman Lapangan di
Bondowoso, Jawa Timur, YKP: Jakarta.
