Abstract
kepemimpinan perempuan tumbuh dari pengalaman konkret, solidaritas komunitas, dan praktik kepedulian, serta berkelindan dengan perjuangan melawan penindasan yang saling mengunci antara identitas gender, kelas, etnisitas, dan disabilitas yang kerap berinterseksi. Sejalan dengan gagasan Manalu (2021) tentang keadilan sosial feminis, bahwa perjuangan ini menuntut pengakuan terhadap kerentanan dan keterhubungan sosial sebagai fondasi tanggung jawab kolektif. Keadilan sosial bukan semata distribusi sumber daya, tetapi juga rekognisi atas suara dan agensi perempuan yang selama ini dipinggirkan. Melalui kepemimpinan akar rumput yang ditampilkan di edisi ini, kita melihat bagaimana keadilan sosial feminis yang terwujud dalam pengalaman personal perempuan sebagai basis advokasi struktural, solidaritas komunitas menjelma kekuatan politik dan inklusi hadir sebagai prinsip etis yang menata ulang arah pembangunan.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.
Copyright (c) 2025 Jurnal Perempuan
