Jurnal Perempuan

Jurnal Perempuan (JP) is an quarterly interdisciplinary scientific journal in the English language and Bahasa Indonesia circulating original ideas in gender studies. JP invites critical reflection on the theory and practice of feminism in the social, political, and economic contexts of the Indonesian society. We are committed to exploring gender in its multiple forms and interrelationships.The journal encourages practical, theoretically sound, and (when relevant) empirically rigorous manuscripts that address real-world implications of the gender gap in Indonesian contexts.
Topics related to feminism can include (but are not limited to): sexuality, trafficking, ecology, public policy, sustainability and environment, human and labour rights/issues, governance, accountability and transparency, globalisation, as well as ethics, and specific issues related to gender study, such as diversity, poverty, and education.

JP is published by YAYASAN JURNAL PEREMPUAN (YJP) that has been issuing the first Indonesian feminist journal since 1996.

Jurnal Perempuan indexed by:

 

Announcements

 

Call For Paper: JP107 Perempuan dan Pandemi di Indonesia

 
Latar Belakang
Covid-19 telah mengguncang dunia, termasuk Indonesia. Berawal dari isu kesehatan global, pandemi ini kemudian juga berdampak terhadap ekonomi, politik, hubungan internasional, kehidupan sosial, termasuk terhadap perempuan dan kelompok rentan atau marginal lainnya. Dampak pandemi terhadap perempuan dan kelompok marginal lainnya memperlihatkan bahwa struktur dan budaya patriarki turut memengaruhi dampak pandemi terhadap kehidupan masyarakat, dan juga memengaruhi bagaimana masyarakat dan pemerintah menghadapi persoalan global ini.
 
Hingga akhir Agustus 2020, angka kematian global yang disebabkan oleh Covid-19 telah mencapai lebih dari 680.000 jiwa, dengan total lebih dari 17.000.000 orang yang tertular oleh virus Corona jenis baru ini. Di Indonesia, hingga bulan September 2020, jumlah kematian telah mencapai lebih dari 8.800 jiwa, dan lebih dari 221.000 orang yang tertular. Covid-19 juga menyebabkan peningkatan pada angka pengangguran. Jumlah pengangguran akibat Covid-19 di Indonesia diprediksi mencapai antara 10,7 hingga 12,7 juta orang pada tahun 2021 (Tirto.id 2020). Pandemi ini telah memaksa semua pihak, baik pemerintah, dunia usaha, maupun keluarga dan individu untuk mengubah seluruh ritme kehidupan.
 
Strategi pembatasan sosial (social distancing) merupakan salah satu strategi kebijakan dalam penanganan pandemi Covid-19 yang diterapkan secara global. Mengikuti negara-negara lain, pada Maret 2020, Pemerintah Indonesia juga menetapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengharuskan warga masyarakat untuk menghentikan berbagai kegiatan di ruang publik, dan mendorong warga untuk melakukan berbagai kegiatan sosial, ekonomi, maupun politik secara berjarak, dari rumah atau secara jarak jauh. Kegiatan-kegiatan di sekolah, perkantoran, pasar-pasar, toko-toko, pusat olahraga, tempat hiburan dan lainnya harus ditutup. Sejak itu maka berbagai kegiatan dilakukan dari jarak jauh, menggunakan sarana daring -- jika memungkinkan, dari rumah atau kediaman masing-masing.
 
Strategi pembatasan sosial tentu membawa konsekuensi dan dampak bagi masyarakat. Pada bulan pertama penerapan kebijakan pembatasan sosial, LBH APIK -- sebuah lembaga bantuan hukum bagi perempuan, telah melaporkan 59 kasus kekerasan dalam rumah tangga (dari tanggal 16 hingga 30 Maret 2020). Kebijakan pembatasan sosial juga mempengaruhi sektor pendidikan, dengan diterapkannya kegiatan belajar mengajar dari rumah selama periode PSBB. Program belajar di rumah berdampak pada 68 juta siswa dan 3,2 juta guru di Indonesia (Santosa 2020). Pandemi Covid-19 juga telah menyebabkan lonjakan harga bahan pokok seperti beras, gula, daging dan lainnya, karena persediaan barang yang kurang dan keterbatasan transportasi (Kompas.com 2020).
 
Pandemi Covid-19 berdampak pada semua orang, namun bagi kelompok perempuan, anak-anak/ anak perempuan, orang dengan disabilitas, dan kelompok marginal lainnya, dampaknya terasa lebih besar. Perbedaan dampak pandemi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda merefleksikan adanya ketimpangan sosial seperti ketimpangan gender, kelas, usia dan relasi sosial lainnya. Pandemi menyebabkan dampak yang lebih besar terhadap kelompok yang termarginalisasi dan/ atau mereka yang berada pada posisi subordinat dalam masyarakat.
 
Peran domestik perempuan untuk mengurus rumah tangga dan kerja-kerja perawatan keluarga dan rumah tangga memengaruhi besarnya dampak pandemi Covid-19 terhadap perempuan. Keluarga atau rumah tangga merupakan unit yang mengalami dampak langsung dari pandemi Covid-19. Maka, dampak pandemi terhadap keluarga telah menyebabkan bertambahnya beban kerja dan tanggung jawab kepada perempuan. Di saat pandemi perempuan harus bertanggungjawab untuk memastikan kegiatan belajar di rumah bagi anak-anak, merawat anggota keluarga yang sakit karena pandemi, mengelola kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, dan di saat yang sama menghadapi kemungkinan menurunnya pemasukan atau kehilangan pekerjaan. Beban kerja domestik selama pandemi juga bertambah bagi perempuan yang bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT). Tanpa pembagian peran yang adil dalam kerja-kerja domestik, maka perempuan harus menanggung beban kerja domestik lebih besar. Lebih jauh, selama pandemi perempuan juga menghadapi tantangan akses terhadap layanan kesehatan, khususnya layanan kesehatan reproduksi.
 
 
Posted: 2020-09-18 More...
 

Vol 25, No 3 (2020): Women Migrant Workers

Open Access Open Access  Restricted Access Subscription or Fee Access

Table of Contents

Articles

Yovi Arista, Zulyani Evi, Wahyu Susilo
PDF
135-148
Sulistyowati Irianto
PDF
149-161
Andi Misbahul Pratiwi, Yusmiati Vistamika Wangka, Andi Nur Faizah
PDF
163-176
Aris Arif Mundayat, Wahyu Susilo, Zulyani Evi
PDF
177-189
Dominggus Elcid Li
PDF
191-207
Zulyani Evi, Yovi Arista, Safina Maulida, Arief Rahadian
PDF
209-219