Jurnal Perempuan

 

Jurnal Perempuan (The Indonesian Feminist Journal) is a triannual interdisciplinary scientific journal in the English language and Bahasa Indonesia focusing on gender studies.  IFJ invites critical reflection on the theory and practice of feminism in Indonesian society's social, political, and economic contexts. We are committed to exploring gender with an intersectional lens. The journal encourages lived experience perspectives, theoretically sound, and address real-world implications of gender inequity in the Indonesian contexts. 

Topics related to feminism can include (but are not limited to): sexuality, trafficking, public policy, sustainability, social development, labor rights/issues, accountability and transparency in governance, poverty, globalization as well as feminist ethics.  

The Indonesian Feminist Journal is the first feminist journal in Indonesia published in 1996 by YAYASAN JURNAL PEREMPUAN (YJP).


Jurnal Perempuan indexed by:

 

Announcements

 

Call For Paper: JP 110 Perempuan dan Inisiatif Keadilan

 

Hingga saat ini berbagai bentuk dan praktik diskriminasi dan ketidakadilan sosial terhadap perempuan belum direspons secara tuntas. Beberapa di antaranya adalah pemenuhan hak perempuan korban di daerah pasca operasi militer, perempuan dalam konflik sumber daya, berbagai praktik kekerasan terhadap perempuan yang masih terus berlangsung atas nama tradisi, adat, budaya, feminisasi kemiskinan, dan berbagai persoalan lainnya.

Dalam konteks pelanggaran HAM masa lalu negara berhutang untuk mengungkap kebenaran dan memberikan pemulihan bagi korban. Sementara, dalam menyoal keadilan sosial, maka negara juga bertanggungjawab untuk mengusahakan dan menyelenggarakan keadilan sosial dan menjamin hak atas rasa aman dan bebas dari diskriminasi. Belum tuntasnya berbagai kasus pelanggaran HAM masa lalu telah melanggengkan diskriminasi dan ketidakadilan yang dialami perempuan. 

Setelah lebih dari dua dekade transisi politik, Indonesia masih belum berhasil menghadapi warisan kekerasan dalam berbagai pelanggaran HAM yang masif di era otoritarian. Pekerjaan rumah yang tertinggal ini justru berlanjut menjadi persoalan konflik yang berkelanjutan, dan berbagai bentuk kekerasan berbasis gender. Gagalnya inisiatif hukum, seperti Pengadilan HAM, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, pemulihan, dan lainnya, kemudian berujung pada impunitas.

Ketika impunitas terjadi, sistim politik saat ini justru cenderung kembali pada praktik otoritarian, seperti persekusi, kriminalisasi terhadap pembela HAM/aktivis perempuan, dan pengabaian terhadap hak-hak korban. Oleh sebab itu, inisiatif korban, penyintas, dan organisasi masyarakat sipil semakin relevan untuk meninjau dan mendorong kembali cita-cita demokratisasi seperti keadilan transisi dan/atau keadilan restoratif, serta agenda keadilan gender. Pengungkapan kebenaran oleh korban, rekonsiliasi melalui medium budaya, upaya pemulihan di akar rumput, merupakan beberapa contoh inisiatif keadilan yang muncul di tengah situasi impunitas. Di berbagai inisiatif keadilan tersebut, kaum perempuan telah menjadi penggerak, baik bagi dirinya, bagi keluarga, dan juga bagi komunitas.

Kajian feminisme terhadap berbagai inisiatif keadilan menjadi penting untuk dieksplorasi dan dipahami, sebagai kekuatan etis, sosial dan/atau politik dengan pendekatan interdisipliner. Jurnal Perempuan edisi 110, hendak mengeksplorasi berbagai pengalaman konkret perempuan dan kelompok marginal lainnya dalam mendorong inisiatif keadilan di dalam masyarakat. Dengan matra feminisme, Jurnal Perempuan edisi “Perempuan dan Inisiatif Keadilan” adalah salah satu upaya untuk membangun diskursus dan mendorong agenda keadilan di Indonesia.

 
Posted: 2021-08-31 More...
 

Vol 26, No 2 (2021): Sexual Violence and Gender Inequality

Open Access Open Access  Restricted Access Subscription or Fee Access
Feminisme memandang kekerasan seksual bukan sebatas pada bentuk-bentuk tindakan seperti pemerkosaan, serangan seksual, pelecehan seksual, maupun serangan fisik lain yang menyasar pada seksualitas seseorang, tetapi menempatkan tindakan-tindakan tersebut dalam konteks relasi yang lebih kompleks yakni ketimpangan gender dan struktural. Hierarki seksualitaslah yang menyebabkan perempuan menjadi salah satu kelompok yang rentan terhadap kekerasan termasuk kekerasan seksual. Karena kekerasan seksual berhubungan dengan relasi kuasa maka kekerasan seksual pun rentan terjadi terhadap anak, minoritas gender, murid/mahasiswa, penyandang disabilitas, pekerja rumah tangga, bawahan dalam relasi industrial, serta pelbagai variasi subordinasi dan hierarki lain di dalam masyarakat. 

Full Issue

View or download the full issue PDF

Table of Contents

Editorial

Sexual Violence and Gender Inequality
admin Jurnal Perempuan
PDF
i-x

Articles

Risna Desimory Tambunsaribu, Ikhaputri Widiantini
PDF
79-90
Livia Istania Iskandar
PDF
91-101
Sri Agustine
PDF
103-109
Ikhaputri Widiantini
PDF
111-119
Titiek Kartika Hendrastiti, Noeke Sri Wardhani
PDF
121-133
Sulistyowati Irianto
PDF
135-141
Atnike Nova Sigiro, Bagus Takwin
PDF
143-158